mediaasia.co, Pesawaran – Upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas kakao terus dilakukan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh tim dosen Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Wiyono, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, pada 20 Desember 2025, dengan sasaran Kelompok Tani Penangkar 9 yang beranggotakan 35 petani kakao.
Desa Wiyono merupakan salah satu sentra kakao di Kabupaten Pesawaran. Namun, produktivitas kakao yang dihasilkan petani masih tergolong rendah akibat tingginya serangan hama dan penyakit, khususnya Penggerek Buah Kakao (PBK) dan penyakit busuk buah, serta praktik panen dan pasca panen yang belum sesuai standar. Kerugian hasil akibat serangan hama dan penyakit dilaporkan mencapai 40–60 persen, sementara mutu biji kakao yang rendah menyebabkan harga jual turun hingga 30–40 persen dibandingkan kakao fermentasi berkualitas baik.
Melihat kondisi tersebut, tim dosen Budidaya Tanaman Perkebunan melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang diketuai oleh Tika Leoni Putri, S.P., M.Si., dengan anggota tim Ir. Wiwik Indrawati, M.P., Ir. Abdul Aziz, M.P., Dr. Widia Rini Hartari, S.T.P., M.P., Irene Zaqyah, S.P., M.Si., Ir. Anggia Fanesa, S.P., M.Tr.P., Suhardi, Bayu Aji Nurrahmadhan, S.Tr.P., serta Rosmala Sari, S.Tr.P.
Ketua tim pengabdian, Tika Leoni Putri, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, serta memperbaiki praktik panen dan pasca panen kakao agar mutu dan nilai jual biji kakao meningkat. “Kami memberikan penyuluhan dan pendampingan langsung kepada petani mengenai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), pemanfaatan musuh alami, penggunaan Trichoderma untuk pengendalian penyakit, serta pentingnya sanitasi kebun dan pemangkasan rutin,” ujarnya.
Selain pengendalian hama dan penyakit, kegiatan ini juga menekankan pada penerapan panen yang tepat waktu dan penanganan pasca panen yang benar, terutama proses fermentasi dan pengeringan biji kakao. Petani diberikan pemahaman tentang pentingnya fermentasi untuk meningkatkan cita rasa, warna, dan aroma biji kakao sehingga dapat memenuhi standar pasar premium.
Tidak hanya itu, tim pengabdian juga memberikan pelatihan pemanfaatan limbah hasil panen kakao untuk diolah menjadi pupuk organik cair, serta demonstrasi pengolahan hasil kakao menjadi produk sederhana seperti permen cokelat, yang diharapkan dapat membuka peluang nilai tambah dan usaha rumah tangga bagi petani.
Kegiatan ini disambut antusias oleh anggota Kelompok Tani Penangkar 9. Para petani berharap ilmu dan teknologi yang diperoleh dapat diterapkan secara berkelanjutan dan ditularkan kepada petani lain di Desa Wiyono dan sekitarnya. Melalui kegiatan pengabdian ini, diharapkan produktivitas kakao petani dapat meningkat hingga 30–40 persen, kualitas biji kakao menjadi lebih baik, serta harga jual kakao petani meningkat minimal 25 persen, sehingga kesejahteraan petani kakao di Desa Wiyono dapat semakin meningkat.


















