Mediaasia.co, Lampung Selatan – Upaya memperkuat kolaborasi antara organisasi nonpemerintah (NGO) dan perguruan tinggi di Kabupaten Lampung Selatan ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Mitra Bentala dan Universitas Indonesia Mandiri (UIM), Kamis (10/9/2026).
Kerja sama tersebut mencakup bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta pemanfaatan produk dan teknologi informasi.
Penandatanganan MoU berlangsung di Gedung Rektorat Universitas Indonesia Mandiri, Lampung Selatan. Kegiatan diawali dengan pengenalan UIM yang disampaikan Rektor UIM, Rustono Farady Marta.
Rustono menjelaskan, UIM merupakan perguruan tinggi yang relatif baru berdiri di Lampung Selatan. Meski demikian, pihaknya terus berupaya meningkatkan kapasitas kelembagaan dan memperluas jejaring kerja sama, termasuk membuka peluang kolaborasi hingga tingkat global.
Ia juga memperkenalkan sejumlah program studi yang dimiliki UIM serta potensi sumber daya yang dapat mendukung pelaksanaan kerja sama dengan Mitra Bentala.
Rustono menyambut baik inisiatif Mitra Bentala untuk membangun kolaborasi dengan UIM. Menurutnya, kerja sama tersebut dapat menjadi ruang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata di tengah masyarakat.
“Kolaborasi ini menjadi peluang untuk mempertemukan pengetahuan dan sumber daya akademik dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Rustono.
Sementara itu, Direktur Mitra Bentala, Rizani, memperkenalkan lembaganya, termasuk pengalaman dalam mendampingi masyarakat serta berbagai program yang telah dan sedang dijalankan di Lampung Selatan maupun sejumlah wilayah lainnya di Provinsi Lampung.
Salah satu fokus yang turut disampaikan adalah isu kebencanaan. Menurut Rizani, kolaborasi dengan UIM merupakan bagian dari upaya Mitra Bentala memperluas jejaring dan membangun kemitraan dengan berbagai pihak, khususnya perguruan tinggi.
“MoU ini diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen kerja sama, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui berbagai kegiatan, termasuk dalam isu kebencanaan. Lampung Selatan merupakan salah satu wilayah yang memiliki kerentanan terhadap berbagai ancaman bencana,” kata Rizani.
Dalam kesempatan yang sama, Supriyanto dari Asian Disaster Preparedness Center (ADPC) menilai pertemuan antara Mitra Bentala dan UIM menjadi peluang strategis untuk mempertemukan kekuatan perguruan tinggi dengan pengalaman organisasi nonpemerintah di lapangan.
Menurutnya, kedua pihak memiliki kapasitas yang dapat saling melengkapi. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan, sumber daya manusia, serta inovasi, sementara Mitra Bentala memiliki pengalaman dalam pendampingan dan bekerja bersama masyarakat.
Dalam konteks pengurangan risiko bencana, Supriyanto juga mendorong UIM mempertimbangkan pengembangan program studi yang berfokus pada kebencanaan.
Ia menilai kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus di bidang kebencanaan masih cukup besar, sementara perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki program studi khusus kebencanaan masih relatif terbatas.
Pertemuan tersebut turut dihadiri para kepala program studi di lingkungan UIM. Mereka menyampaikan dukungan terhadap kolaborasi yang akan dibangun serta membuka peluang keterlibatan masing-masing program studi sesuai kompetensi dalam pelaksanaan berbagai kegiatan bersama Mitra Bentala.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi terbangunnya kolaborasi yang lebih konkret antara dunia akademik, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat dalam mendukung pengembangan kapasitas serta upaya pengurangan risiko bencana di Lampung Selatan. (Red)


















